Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama terkenal dan mumpuni sehingga dijuluki sebagai Syaikhul Islam.

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:
“Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

“Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu.”1) Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky.

NAMA DAN NASAB

Beliau adalah imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan
kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam,
pembela dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam
yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah
bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany
Ad-Dimasyqy.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak
antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul
Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua
dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara
Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari
dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab
ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor
binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga
hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka
ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya
mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau.
Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari
berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri
itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut
tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai
ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan
bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai
beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar
dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang
ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang
kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes
dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu
Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika
disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu
mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika
anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum
pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama,
mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa
kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk
belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya
shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan
teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah
berkata: “Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu
merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu
kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu
terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di
madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar
hingga terpenuhi cita-citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada
putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’
dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib
AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa)
Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan
pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu
Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh
Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti
Ibnu Taimiyah … dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu
terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta
lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul
dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan
matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya,
terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah
menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul
Islam, lalu siapa dia ini ?”

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan
Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti
dia …” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan
pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam
tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu
pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama
zamannya. Al-’Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah
berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang
mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah
hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun
yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk
bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi
kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui.
Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah
berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain,
melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau
mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata
dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah
lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya
terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil
naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu,
zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya
buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa,
amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain,
baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya.
Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang
sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil,
Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan
dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya … Maka tidak
seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya
… Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui
oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

DA’I, MUJAHID, PEMBASMI BID’AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang
tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang
pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat
Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah
pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam
untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan
sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah
pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik
dan benar, memberikan kesaksiannya: “.. tiba-tiba (ditengah kancah
pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan
komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari
.” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan,
maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak
kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para
penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum
munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga
karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang,
diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta
antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam
berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira.
Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau
berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya
terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:
“Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara:
” Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang
yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah
islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku
tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam
penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh
beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar,
tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana
penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan
dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin
tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan
orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin
serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya
agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain.
Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka
menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak
mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan
untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan
Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan
dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada
sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya
tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun
dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau.
Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita
sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah
seorang muridnya yang menonjol, Al-’Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selamaa dua tahun tiga bulan dan beberapa
hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau
selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan,
dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat
menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima
pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat
Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan
jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga
kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq
(Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati
kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada
seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga
orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan
menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta
dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad
bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada
waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam
Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i,
mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh.
Wallahu a’lam.

1) Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi
Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah-Dimasyq. hal.
Depan

CATATAN:

Artikel ini saya kutip dari sebuah mailing list yang diposting (forward) oleh Abu ‘Abdul ‘Aziz. Saya belum menemukan siapa penulis aslinya.


7 Responses to “Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

  • 1
    Andra_Katong
    February 7th, 2008 10:54

    “Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
    Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
    Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
    dan tiada pernah tinggalkan aku.
    Aku, terpenjaraku adalah khalwat
    Kematianku adalah mati syahid
    Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

    Mas agus kok dia ini berani klaim pada syairnya di atas bahwa kematiannya adalah amti syahid? Luar biasa dia bisa dengan angkuhnya menonjolkan diri sendiri sedemikian rupa….menurut saya terlalu sombong….sedangkan Alloh mengharamkan surganya bagi orang yang sombong.

    Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada
    seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya.

    Bagaimana mungkin seorang saksi mata ini seperti ini bisa mengkalim tidak seorangpun yang ketinggalan? Berapa banyak jumlah penduduk? tahu persiskah orang ini berapa jumlahnya? apakah seorang ini sebagai anggota sensus? kalimnya hanyalah kesimpulan yang sangat sembrono….pengagungannya kepada Ibnu Tai-miyah terlalu berlebihan. Maaf…dan saya gak masalah disebut sebagai seorang bodoh lantaran dianggap pembenci si biang ini

  • 2
    Agung Priadi
    November 3rd, 2008 09:43

    Den Bagus,.. Ketemu lagi. Den waktu kuliah di perpustakaan UNDIP saya ketemu buku tg biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. darinya alhamdulillah dapat informasi yang konfrehensif tentang andil dan sumbangsihnya kepada Islam. Dan tak lupa juga jadi tau nih, kenapa Sirajuddin abbas dan semodelnya sangat membenci Syaikhul Islam.

    “Salah satu tanda Ahli bid’ah adalah benci kepada Ahli Atsar”

    Konco lawas,
    Agung Priadi
    apriadi27@yahoo.com

  • 3
    agus
    November 3rd, 2008 13:47

    #Andra_Katong

    terima kasih atas komentarnya, Anda cukup jeli untuk mengritisi artikel ini.

    >> Kematianku adalah mati syahid

    Allah sudah berjanji bahwa yang dengan ikhlas berjuang di jalanNya, insya Allah surga hadiahnya, dan yang gugur dalam berjihad di jalan Allah, insya Allah akan mati syahid. Allah sudah berjanji, dan janji Allah sudah pasti ditepati. Sedangkan yang tahu keikhlasan Syaikhul Islam, hanya beliau sendiri. Dalam kacamata saya, apa yang beliau katakan adalah, harapan dan prasangka baik kepada Allah.

    >Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada
    >seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya.”

    Perhatikan kata-kata saksi *Menurut yang aku ketahui*, itu artinya sesuai dengan apa yang ia lihat/ketahui saja. Kalau kita membayangkan dia/saksi berjalan menuju arah Syaikhul Islam, maka semua orang yang ia temui, semua berjalan ke arah yang sama, kecuali hanya tiga orang saja. Ini yang saya pahami.

    Allahu a’lam

  • 4
    agus
    November 3rd, 2008 13:49

    #Agung Priadi
    Mas Agung, terima kasih infonya
    saya baru tahu, bahwa Ibnu Taimiyyah ternyata banyak juga yang membencinya.

    saya cari-cari via google ternyata ada informasi berikut:

    http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg08447.html

    agus suhartono

  • 5
    agung Priadi
    November 10th, 2008 11:21

    Wah, penulis nya Hendriyanto , copaste tulisan di milist assunnah.
    Ya ga masalah sih , asal sesuai aslinya,….

    Barakallahu fiikum

    Abu Ismail

  • 6
    Barb Beck
    November 13th, 2008 05:38

    hvn98xc3fy0ffqtx

  • 7
    ucoks
    November 14th, 2008 09:23

    ga jelas gitu ibnu taimiyah….. tenggelam kok dalam kancah dunia ga ada di liat orang… manusia2 yang menghinakan keluarga Nabi…. sapa sih dia? tau apa tentang isi dari buah…. sedang dia ga pernah merasakan buah itu…. swt

Leave a Reply